CINTA, TAK HARUS MEMILIKI……
Oleh Santi Marselina Napitupulu*
Wajah Angga memerah. Hatinya remuk. Dadanya sesak. Tubuhnya lunglai. Dia merasa jatuh dan tak sadarkan diri ketika melihat wanita yang dikasihinya telah menjadi milik orang lain. Tak punya daya, tak ada usaha lagi. Tak ada lagi semangat hidup lelaki berumur 29 tahun itu. Dengan seketika wajah Angga seolah telah menua seumuran 59 tahun.
“ Tuhan tidak adil kepadaku!. Mengapa ini harus terjadi kepadaku? Mengapa hal ini tidak terjadi kepada orang lain saja?” Egonya dalam hati.
Dengan hati tidak ikhlas ia menemui Echa wanita yang menjadi bidadari hatinya selama kurang lebih sepuluh tahun. Angga bersalaman dengan Echa dengan raut wajah yang sengaja dibuat sumringah menutupi keadaan hati yang sebenarnya.
“Selamat yah…? Kamu terlihat cantik sekali. Tak pernah aku melihat kamu secantik hari ini, di hari pernikahanmu. Semoga cintamu dan Herry abadi selamanya.” Unggkap Angga dengan lembut.
“ Terima kasih banyak yah… ? Pernikahan ini pasti tidak dapat terlaksana tanpa bantuan dari sahabat sejatiku yaitu kamu.” Ucap Echa dengan tersenyum lebar.
“ Sahabat? hanya sekedar sahabat? setelah sepuluh tahun bersama aku hanya dianggap sahabat saja olehnya?”Tanya Angga kesal dalam hati.
Setelah bersalaman dengan Echa, Angga yang kecewa dengan ucapan Echa tadi segera menghidupkan motor kesayangannya dan melaju dengan kecepatan secepat kilat menyambar udara. Tak peduli lagi bahwa apa yang dilakukannya akan menimbullkan resiko yang sangat luar biasa yaitu kematian. Apa mau dikata…? Nasi telah menjadi bubur. Dengan menambah kecepatan motornya ia bagaikan burung putus asa yang terbang diudara tanpa arah. Lenyap, senyap.
Sampailah Angga kerumahnya tanpa terjadi sesuatu yang buruk yaitu kecelakaan. Tanpa mengetuk pintu ia berlari kekamarnya dengan meneteskan air mata. Orang tua Angga berusaha untuk membuka pintu, tetapi pintu terkunci dengan rapat serapat hati Angga untuk orang lain sekarang. Hatinya benar-benar hancur berkeping-keping. Benar-benar tak tahan lagi dengan semuanya ini. Tubuh Angga segera meresponi perasaan hatinya yang kacau dengan bertambahnya naiknya suhu badan Angga yang membuat sekujur tubuhnya lemas dan dan detak jantung yang berdegub kencang. Bunuh diri sempat terfikir dibenak Angga malam itu. Tetapi itu hanyalah emosi semata yang dapat diatasinya dengan semakin mendekatkandiri kepada yang Kuasa. Sejenak Angga melenyapkan semua masalah yang membuat hatinya galau dengan merebahkan diri di kasur yang empuk. Tak sadar lagi Angga kerena ia telah memasuki alam bawah sadarnya.
Pagi menjelang. Angga membuka mata sembabnya kerena menangis habis-habisan tadi malam. Ia segera menuju kamar mandi untuk sejenak membasuh tubuhnya dengan segayung air yang menyegarkan. Hatinya sedikit mulai membaik setelah kejadian tadi malam. Ia bersiap-siap untuk berangkat kekantor . Tak lupa ia sarapan pagi terlebih dahulu dimeja makan yang merupakan tempat pertemuaan pertama sekali setelah malam berlalu. Ayah, ibu dan adiknya terlebih dahulu datang kemeja makan tersebut. Seluruh anggota keluarga tersebut hanya dapat terdiam memendangi wajah Angga yang muram dan ditumbuhi jerawat disekitar pelipis kirinya. Ia tak seperti biasanya yang selalu mencium tangan kedua orang tuanya sebelum berangkat kekantor. Ayah dan ibunya juga mengerti apa yang telah dialami oleh anak kebanggan mereka dan mereka hanya terdiam saja hingga anak lelaki mereka mau berbicara kepada mereka seperti kemarin-kemarin.
Angga berangkat kekantor mengendarai mobil sedan biru hadiah orang tuanya ketika umurnya 17 tahun. Tetapi Angga tidak berangkat kekantornya melainkan membelokkan setir mobilnya mengarah menuju sebuah pinggiran taman yang merupakan awal kisah sedih ini dimulai. Seketika muncul bayangan kenangan yang memenuhi kepalanya dan menambah kecepatan jantungnya. Mulai terlihat semua kenangan masa lalu mereka berdua mulai dari awal mereka bertemu.
*
“Heeii serahin semua uang yang loe punya!!! Cepetan!!!!! ” .Ancam seorang bocah laki-laki gendut.
“ Maaf yah aku nggak punya uang sekarang!!! ” Jawab anak perempuan cantik itu menolak.
“Haaahh… jangan bohong deh loe!!!1 cepet serahin uang loe!!! ” Ancaman kedua bocah laki-laki itu terlontar.
“ beneran gue nggak punya uang sekarang!!! ” Jawab anak perempuan itu sambil mengangkat kedua jarinya keudara.
“ hahh banyak omong loe….!!! Gue tabok loe…!!!” Bocah lelaki itu terlihat ingin menampar pipi anak perempuan itu.
“ hhaa…jangan…..!!!! anak perempuan itu terlihat menangis.
“ Heii… kalo berani jangan sama cewek dong !!! sini lawan gue !!!” ucap seseorang anak laki-laki menahan ketika bocah lelaki gendut itu ingin menampar anak perempuan itu.
“ siapa loe ?jangan ikut campur deh loe…!!!!” Bocah lelaki gendut itu terlihat sangat marah.
“ sini loe kalo berani…!!!” Tantang anak lelaki itu bak seorang pahlawan kesiangan.
Terjadilah perkelahian antara bocah gendut itu dan seorang anak laki-laki yang menantang bocah gendut itu yang menyebabkan pelipis kanan anak lelaki itu terluka saat pertama kali masuk sekolah SMP.
“ Maaf yah gara-gara aku kepala kamu luka kena batu…!!!” Jawab anak perempuan itu dengan lembut.
“Nggak apa-apa koq…Aku tuh paling gak suka kalo orang yang lebih kuat menindas orang kebih lemah!!!” Ucap anak laki-laki itu sambil meringis kesakitan.
“Makasih banyak yah…!!! Oh yah…nama kamu siapa?” Tanya anak perempuan itu.
“AnggaParulian Prasetyo.Tapi biasa dipanggil Angga ajah. Nama kamu siapa?” Anak laki-laki itu balik bertanya.
“ Namaku Marselina Veironika Elsandeo, tapi biasa dipanggil Echa.” Jawab anak perempuan itu dengan lembut.
Itulah percakapan pertama antara Angga dan Echa yang memang berada dalam satu sekolah yang sama. Dan hubungan berlanjut hingga mereka duduk di Sekolah Menengah Atas yang sama. Hubungan mereka berdua pun semakin dekat. Hingga dianggap oleh teman mereka sebagai sepasang kekasih. Tapi Echa selalu membantah dengan apa yang di ucapkan oleh teman-temannya. Namun berbeda dengan Angga yang menganggap bahwa hubungan mereka benar –benar sepasang kekasih walaupun Angga maupun Echa tak pernah mengungkapkan perasaan mereka yang sesungguhnya. Semakin hari semakin dekat saja hubungan mereka. Mereka selalu ditempatkan dalam satu kelas yang sama dari kelas sepuluh sampai kelas dua belas. Seolah-olah mereka bagaikan air laut dan gelombang yang tak pernah terpisah satu dengan yang lain. Apapun yang tugas yang diberikan oleh guru selalu mereka ditempatkan di kelompok yang sama.
Kepala Angga semakin sakit ketika kenangan-kenangan bersama Echa berlimpahan di kepalanya. Hatinya menangis dan miris ketika mengingat satu kejadian sangat menyedihkan menimpa Echa. Dan Angga mulai kembali membuka pikirannya dengan kenangan-kenangan di waktu mereka duduk di kelas sebelas.
Ada satu kelompok yang terdiri dari empat wanita cantik. Ketua dari kelompok itu sangat menyukai Angga. Bayangkan saja siapa yang tidak menyukai laki-laki berpostur tinggi, berkulit putih, sudah pasti berwajah ganteng, pintar dan selalu mendapat juara kelas, dan yang paling diperhatikan oleh wanita-wanita itu adalah Angga seorang anak pengusah sangat kaya di kota Jakarta saat itu. Tentu saja wanita-wanita itu panas ketika Angga laki-laki idaman akrab dengan wanita berambut panjang, cantik, berkulit kuning langsat, sopan, sederhana, memang lebih pintar dari Angga, dan wanita itu berasal dari keluarga sederhana, yaitu ayahnya hanya bekerja sebagai pegawai negeri sipil dan ibunya hanya seorang ibu yang berjualan gado-gado di depan rumah wanita itu dalah Echa. Ke empat wanita itu menganggap Echa adalah wanita hina dan miskin yang tidak pantas dekat dengan Angga. Ke empat wanita itu bahkan berani melakukan tindakan yang ekstrim untuk menyingkirkan Echa dari kehidupan Angga. Mulai dari membuang tas Echa kedalam tong sampah, membakar sepatu olahraga Echa di lapangan sekolah,walaupun sepatu olahraga tersebut sudah tidak layak pakai, menggantung seragam putih abu-abu di tiang bendera, hingga teror melalui handphone yang mengancam membunuh Echa jika saja ia tidak mau menjauhi Angga. Tapi, untunglah Angga setia menjadi pahlawan bagi Echa.
Tibalah saat puncak kejahilan keempat wanita itu. Mereka mengurung Echa selama satu hari penuh didalam WC tak terpakai di belakang sekolah. Angga yang tidak melihat keberadaan Echa sejak pagi hari pun sibuk mencari Echa namun akhirnya Angga mengetahui kebreradan Echa ketika salah seorang teman Angga memberitahu keberadaan Echa. Angga pun memanas ketika pulang sekolah seorang teman lelakinya memanggilnya untuk menolong Echa yang pingsan karena ketakutan dan kelaparan karena terkurung cukup lama dalam WC tersebut. Dengan segera Angga berlari ke WC dibelakang sekolah untuk menolong pujaan hatinya. Dengan rangkulan yang kuat Angga membawanya ke UKS. Angga menangis ketika melihat Echa tak berdaya. Kemudian ia mencari keempat wanita itu yang diyakininya sebagai dalang di balik semua kejadian ini. Namun, hasilnaya nihil. Mereka berempat sudah melariakan diri terlebih dahulu jauh sebelum pulang sekolah. Angga pun kembali ke UKS menjenguk Echa masih tak sadarkan diri ditemani kedua orang teman Echa. Akhirnya setelah setengah jam kemudian, Echa baru bangkit dari ketidak sadarannya. Angga langsung memeluk Echa dengan erat. Echa kaget dengan kelakuan Angga yang dianggapnya aneh.
“Ada apa ini…?”tanya Echa lemas.
“ Tidak ada apa-apa kok…!”jawab kedua teman Echa.
“ Ayo kita pulang!”ajak Angga.
“ Adda apa sih…?kenapa kepala sakit sekali!!keluh Echa.
“ Nanti saja aku ceritakan di jalan.” Jawab Angga.
Saat di jalan Angga menceritakan semua kejadian yang telah terjadi pada Echa.
*
Tiga tahun berlau dengan cepat. Akhirnya Angga dan Echa lulus dari SMA. Echa dan Angga memperoleh penghargaan sebagai lulusan terbaik dari SMA nya. Mereka harus rela meninggalkan sekolah yang telah memberi mereka sejuta kenangan manis dan pahit. Angga dapat tertawa lepas ketika dilihatnya di papan pengumuman keempat wanita yang pernah menyakiti pujaan hatinya tidak lulus dan harus mengkuti ujian ulang. Namun, Echa melarang Angga senang dibawah penderitaan orang lain.
Mereka pun diterima di Perguruan Negeri yang sama lagi. Tentu saja intensitas pertemuan mereka semaki sering dan semakin dekat.
Empat tahun berjalan seperti empat hari. Semakin kuat pula rasa cinta Angga kepada Echa. Echa bekerja disalah satu perusahaan terkenal di Jakarta, sedangkan angga melanjutkan kepemimpinan ayahnya diperusahan milik keluarganya. Tapi, sampai usia kedekatan mereka menginjak sepuluh tahun Angga belum berani menyatakan rasa cinta nya kepada Echa. Hingga Echa pun menjalin hubungan dengan seorang pria sederhana bernama Herry setiawan. Herry adalah pria yang dijodohkan dengan Echa oleh orangtua Echa. Orangtua Echa menjodohkan Echa dengan Herry karena ayah Echa ingin membalas budi baik ayah Echa kepada ayah Herry yang pernah meminjam uang kepada sahabatnya yaitu orangtua Herry sebesar dua puluh juta untuk operasi kista ibu Echa. Ayah Herry dengan senang hati meminjamkan uang tersebut dengan ikhlas dan jika ada uang saja baru dibayarkan kepada ayah Herry. Hal inilah yang menyebabkan ayah Echa menjodohkan Echa dan Herry. Echa pun tak dapat menolak keinginan ayahnya. Memang Echa dan Herry sudah berteman dari kecil, sehingga mereka pun tak keberatan untuk dijodohkan karena Herry memang menyukai Echa. Hingga seminggu sebelum pernikahan Echa dan Herry, Angga mengajak Echa untuk makan malam di sebuah restoran mewah. Tujuan Angga untuk mengajak Echa makan malam adalah melamar Echa. Namun, Echa juga mempunyai tujuan ketika menyetujui permintaan Angga untuk makan malam yaitu memberikan sebuah undangan berwarna merah muda sebagai tanda akan terjadinya ikatan yang mendarah daging dengan Herry.
Tiba di restoran tersebut Angga menyiapkan mentalnya untuk memberanikan menyatakan cinta dan melamar Echa. Memang Angga datang lebih dulu untuk mematangkan niatnya. Setibanya Echa di restoran tersebut mata Angga tak berkedip lagi menatap Echa, yang memakai gaun putih yang sangat terlihat anggun dan mempesona.
“Ada apa sih kamu ngajak aku ke restoran mahal kayak gini?” Tanya Echa penasaran.
“ Gak ada apa-apa…Cuma maungajak kamu makan aja, kan udah lama kita nggak makan berdua.” Jawab Angga.
Setelah selesai makan kemudian Angga mengeluarkan kotak berwarna merah yang didalamnya berisi sepasang cincin yang masing-masing cincin terukir nama mereka yang tentu saja tidak murah harganya. Echa kaget setengah mati ketika cincin itu berada diatas meja.
“Bagus banget cincinya. Pasti mahal.” Ucap Echa mengagumi. Belum sempat Angga berbicara menjelaskan dan mengungkapkan isi hatinya Echa pun mengeluarkan undangan yang telah dipersiapkan dari rumah tadi.
“ Nih, undangan. Dateng yah…!” ucap Echa dengan lugu.
Betapa hancurnya hati Angga ketika dibacanya kata demi kata yang bertuliskan:
Menikah
Herry Setiawan
dengan
Marselina Veironika Elsandeo
Lututnya terasa lunglai. Bibirnya keluh tak berdaya. Angga terdiam, terpaku. Otaknya terasa berhenti berfungsi.
“ Angga? kamu nggak apa-apa kan?” tanya Echa kepada Angga.
Angga masih tak bergerak. Echa menggoyang-goyang badan Angga yang terasa kaku.
“ Angga,Angga kamu nggak apa-apa kan?”.Tanya Echa sekali lagi.
“ Enggak aku nggak apa-apa kok…”!. jawab Angga dengan volume suara yang hampir tak terdengar.
“ Kamu harus dateng yah, karena kamu akan jadi tamu kehormatanku, oke ?
Kaki Angga semakin lemas mendengar perkataan lugu dari Echa.
“ Ayo kita pulang, biar aku yang anter kamu!” paksa Angga dengan hati yang atk karuan lagi rasanya.
“ Enggak usah aku dijemput sama Herry .” tolak Echa.
“Herry? Siapa dia? Tanya Angga dengan wajah yang menyeramkan.
“ Herry! Calon suami aku!”. Jawab Echa dengan santai.
Angga terdiam seolah mematung. Tubuhnya dingin. Keringat suhu seratus derajat celcius mengucur deras di dahinya.
“ By the way, makasih yah kamu udah ngajak aku makan malam ditempat mewah. Kamu terlihat sangat tampan malam ini”. Puji Echa kepada Angga.
Pujian Echa terhadap Angga rasanya tak mengobati sakit hati Angga yang telah terukir dihatinya.
“ Nah, itu Herry Udah jemput, aku duluan yah…!” Ucap Echa sambil mendaratkan kecupan di pipi Angga.
Hati Angga semakin sakit ketika Herry mencium pipi Echa dengan mesra. Angga segera membayar makanan yang telah dimakan mereka berdua tadi. Ia berlari menuju motor kesayangannya dan memacu motornya dengan kecepatan seratus delapan puluh kilometer per jam. Dengan kecepatan yang ditunjukkan speedometer motor Angga bukan tidak mungkin menghantarkan Angga ke gerbang kematian, namun untungnya yang Maha Kuasa belum mengizinkan Angga untuk menemui ajalnya.
*
Tak terasa Angga meneteskan air mata di pipinya asat mengingat kejadian-kejadian itu. Semakin Angga mengingat semua kenangan itu semakin sakit pula kepalanya. Tak dapat dengan mudah Angga melupakan kenangan yang telah dalam terukir di lubuk hatinya. Tapi hidup harus terus berlanjut. Tak boleh berhenti. Dengan tekad yang kuat Angga berusaha bangkit sebagai pria sejati yang tak akan rapuh karena putus cinta. Kata klise yang sering diucapkan oleh paman Angga yaitu “Jodoh takkan kemana” seolah memenuhi memori otaknya. Namun kesimpulan yang dapat diambil oleh Angga setelah kejadian-kejadian yang dilaluinya yang terdapat kejadian senang maupun sedih ini adalah cinta tak harus memiliki. Sekarang yang harus dilakukan oleh Angga adalah hanya mendoakan Echa, belahan jiwanya agar bahagia bersama Herry pasangannya sekarang.

*Penulis adalah seorang siswi di salah satu SMA terbaik di kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan yaitu SMA Plus Negeri 2 Banyuasin III, yang duduk di kelas X.1.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar